Benda Pusaka dalam Diskursus Modern



Modernisasi terkadang disempitkan oleh para penganut realitas. Semua yang berbau kuno, yang sulit dicerna logika, mesti ditolak. Sebab, sesuatu yang kuno itu dianggap tidak uptodate dan tidak ada manfaatnya bagi kehidupan kekinian.  

Salah satu yang berbau kuno itu adalah benda pusaka. Baginya, tidak ada ruang untuk meyakini sesuatu yang dianggap irasional yang menyertai benda pusaka itu. Bahkan, baginya akan janggal jika hidup di alam modern seperti sekarang masih saja mempercayai narasi barang pusaka.

Padahal, benda pusaka adalah harta benda warisan leluhur yang bermanfaat. Sebab, di dalamnya penuh dengan hikmah dan nilai-nilai kebajikan. Bahkan hikmah dan nilai-nilai kebajikan itu berlaku universal. Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, yang karena itu pula, masih aktual dan bernilai guna di era modern sekalipun.

Negara maju, semisal Jepang misalnya, dalam setiap momentum pengukuhan kaisarnya selalu mewajibkan seremoni penyerahan benda-benda pusaka Kekaisaran Jepang kepada kaisar baru. Benda-benda pusaka itu disebut Sanshu no Jingi atau harta karun suci yang amat dirahasiakan. Bentuknya berupa pedang Kusanagi, perhiasan Yasanaki no Magatama, dan cermin Yata no Kagami. Seremoni ini sudah berlangsung sejak tahun 690 dan hingga kini masih diberlakukan sebagai sebuah keharusan.

Ketiga benda pusaka itu melambangkan keberanian, kebijaksanaan, dan kebajikan. Perlambang itu diharapkan bisa ditunjukkan sang kaisar kepada rakyatnya ketika dia memimpin.

Sekelumit konflik peneguhan eksistensi barang kuno (pusaka) ini dapat pembaca temukan dalam novel “Cermin Pusaka” karya Solehun. Pada Bab 1 Pecahnya Cermin Pusaka, konflik itu terjadi antara Dino yang sengaja memecahkan cermin pusaka karena telah menggambarkan wajahnya mirip pinokio dan ayahnya, Prawiro, yang ditugasi untuk menjaga cermin pusaka.

Dino menilai cermin pusaka itu telah menghancurkan reputasinya. Sementara Prawiro menilai cermin pusaka ini telah menunjukkan kemanfaatannya karena telah berkata jujur dan menyampaikan otokritik.

Begitulah, ternyata ketidakpercayaan pada nilai manfaat benda kuno atau barang pusaka di era modern sangat tergantung dengan kepentingan hidup. Lantas, bagaimana dengan kita?

Komentar