Pola Branding Pemprov Sumsel

Membaca Pola Pemprov Sumsel dalam Mengelola Potensi Daerah Melalui Pendekatan Branding Berkelanjutan
Oleh: Solehun



Prolog
Era otonomi daerah telah memberi peluang besar bagi pemerintah daerah untuk berinovasi dan berimprovisasi dalam mengelola segenap potensi yang dimiliki daerahnya. Peluang ini hendaknya mampu dimanfaatkan oleh setiap kepala daerah, guna mendorong terjadinya percepatan pembangunan daerah yang bermuara pada terwujudnya kesejahteraan masyarakat dan semakin demokratisnya pemerintahan di daerah.
Yang mesti disadari, upaya mewujudkan pemerintahan daerah yang mensejahterakan dan demokratis akan sulit dicapai ketika pemerintahan yang ada tidak dekat dengan rakyat, tidak melibatkan partisipasi masyarakat. Karenanya, pemerintah yang dekat dengan rakyat adalah sebuah keniscayaan, guna mengenali dengan baik berbagai kebutuhan, permasalahan, kepentingan dan aspirasi rakyat. Dari sini akan terlahir kebijakan pemerintah yang sesuai dengan kepentingan dan aspirasi rakyat. Dari sini pula akan tercermin pemerintahan yang baik (good governance) yang dicirikan oleh adanya participation, rule of law, transparency, responsiveness, consensus orientation, equality, effectiveness and  effeiciency, accountability, and strategic vision.
Dari karakteristik good governance tersebut tergambar betapa fungsi komunikasi yang diwakili oleh institusi humas atau public relations pemerintah sangatlah strategis guna menciptakan transparansi, keterbukaan, dan distribusi informasi yang pada akhirnya dapat melahirkan keterlibatan aktif, partisipasi dan dukungan masyarakat. Adanya dukungan masyarakat ini sangat penting karena tanpa itu, apa pun bentuk kebijakan dan program yang dibuat atau dijalankan pemerintah, tidak akan memiliki makna apa-apa.
Melakukan Branding untuk Meraih Mimpi Sumsel Gemilang
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) nampaknya menyadari bahwa potensi yang dimiliki daerah ini cukup besar, baik di bidang energi ataupun pertanian. Selain itu, provinsi ini juga didukung letak geografisnya yang strategis. Potensi yang besar ini tentunya tidak akan bermakna apa-apa jika tidak mampu digali, dikelola, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Padahal, logikanya, semua potensi ini sangatlah cukup untuk menjadikan Sumsel Gemilang, yang di dalamnya rakyat hidup sejahtera, terdepan, dan diperhitungkan di tingkat nasional bahkan internasional.
Untuk menuju Sumsel Gemilang, Pemerintah Provinsi ini menilai perlunya upaya-upaya terobosan melalui program percepatan pembangunan di daerah ini. Targetnya, semua potensi itu bisa termanfaatkan demi terwujudnya Sumsel Gemilang.  
Dalam pengamatan penulis, pola Pemerintah Sumatera Selatan di dalam mengelola potensi daerahnya melalui pendekatan branding (public relations) yang berkelanjutan, tergambar dalam paparan berikut.
Pertama, adanya penegasan branding dari tujuan pembangunan daerah ini berupa “Sumsel Gemilang”, yang dicirikan dengan kondisi Sumatera Selatan yang sejahtera, terdepan, serta diperhitungkan di tingkat nasional dan internasional. Di sini, berbagai bentuk dan aktivitas kehumasan dijalankan agar publik tahu tentang apa dan bagaimana Sumsel Gemilang.   
Kedua, menciptakan branding yang kuat bahwa “Sumsel adalah daerah kaya sumber daya alam (SDA)”, terkhusus potensi energi dan pertanian. Promosi Sumsel kaya potensi SDA ini didukung dengan data dan fakta akurat, yang tujuannya selain untuk meyakinkan publik internal agar dapat memaklumi brand “Sumsel Gemilang”, juga untuk menarik investor agar mau datang dan berinvestasi di daerah ini sehingga akan terjadi percepatan pembangunan yang mendukung terwujudnya Sumsel Gemilang.
Ketiga, menghadirkan brand “Sumsel sebagai daerah yang menarik atau eye catching”. Untuk mendukung brand ini, Sumsel pun harus bekerja keras untuk menjadi tuan rumah dan mensukseskan berbagai event internasional di daerah ini. Berbagai even internasional itu di antaranya Sea Games 2011 (11 negara), Islamic Solidarity Games 2013 (47 negara), Asean University Games 2014 (11 negara), MTQ Internasional 2014 (53 negara), dan Asian Games 2018 (45 negara). Dengan suksesnya even ini, Sumsel dengan sendirinya terpromosi secara gratis dan luas hingga ke kancah internasional, berikut potensi SDA, sosial politik dan budayanya, yang pada akhirnya berdampak pada derasnya investasi yang masuk ke daerah ini. Sementara secara domestik, banyak dana pusat (APBN) dan dana perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) yang masuk untuk pembangunan infrastruktur pendukung di daerah ini.   
Selain penyelenggaraan even internasional, brand Sumsel yang eye catching juga ditampilkan melalui berbagai program pembangunan yang bernuansa pilot project nasional. Di antaranya adalah program sekolah dan kuliah gratis, berobat gratis, sekolah jurnalisme Indonesia, Asian School of Journalism, Jakabaring Sport City, dan LRT(light rail train). 
Keempat, menciptakan brand-brand turunan yang sifatnya memperkuat brand utama atau yang telah ada. Misalnya, brand “Jakabaring Sport City”. Sebagai lokasi utama gelaran even internasional, Jakabaring Sport City yang kini memiliki sarana olahraga lengkap dan berstandar internasional terus dirawat dan dikembangkan sebagai lokasi andalan sport and tourism.
Pasca sukses Sea Games 2011, Jakabaring Sport City pun tidak pernah sepi dari even olahraga internasional. Sebut saja Asian Golf League Palembang Musi Championship 2012, South East Asia Canoe Championship 2013, BeachVollyball Asia Pacific Governor Cup 2013, dan World Tournament Sepak Takraw Super Series II 2013. Selanjutnya, World Badminton Tournament Indonesia Open Grand Prix Gold 2013, Tournament of  Water Ski and Wakeboard World Cup 2013, South Sumatera Premium ASC/ITU Triathlon–Duathlon Championship 2013, Islamic Solidarity Games Tahun 2013, Asean University Games XVII Tahun 2014, dan BeachVollyball Asia Pacific Governor Cup 2016.    
Demikian beberapa pola yang telah dimainkan oleh Pemerintah Sumatera Selatan di dalam mengelola potensi daerahnya melalui pendekatan branding (public relations) yang berkelanjutan.  Branding terhadap semua itu tentunya dilakukan melalui proses manajemen Humas secara profesional dan berkelanjutan, serta dengan memanfaatkan berbagai sarana media yang ada, baik media luar ruang, cetak, elektronik, ataupun media sosial.
Saatnya Mengelola Kehumasan dengan Baik
Berkaca dari pengalaman Sumsel ini, kita dapat menarik benang merahnya bahwa kehumasan atau public relations yang dikelola dengan baik, ternyata memiliki peranan yang sangat besar dalam mensukseskan tujuan dan program pembangunan suatu daerah. 
Karenanya, sudah menjadi keniscayaan apabila keberadaan humas atau public relations suatu instansi atau lembaga hendaknya dikelola dengan baik melalui sebuah proses dan tahapan manajemen yang sistematik. Dalam konteks ini pula, para pegiat kehumasan dianjurkan untuk tidak lelah menerapkan tahapan-tahapan public relations yang disampaikan Scott M Cutlip, Allen H. Center dan Glen M. Broom (2000:340) dalam bukunya Effective Public Relations.
Empat tahapan dalam pengelolaan public relations itu yaitu: (i) penjelasan berbagai permasalahan public relations (Defining Public Relations Problem atau Fact-Finding); (ii) perencanaan dan pembuatan program (Planning and Programing); (iii) pelaksanaan dan mengkomunikasikan (Action and Communicating); (iv) evaluasi Program (Evaluating The Program).  
Begitu pentingnya eksistensi humas atau public realtions bagi keberhasilan tujuan sebuah organisasi, maka sudah saatnya pula kita untuk tidak meremehkannya. Mari kelola kehumasan dengan baik dan maksimal agar citra positif senantiasa menyertai perjalanan sebuah institusi atau lembaga. Semoga!

Komentar