Pendewa Citra
siapa bilang aku
menyekutukan tuhan
sebab hanya sebuah citra
yang kudewakan
kalaupun ada simulacra
atau tipuan
tak pantas pula kau
sebut
keharaman
belgedes! mestinya malah
kau sebut
aku pahlawan
karena citraku
menebarkan kesuksesan
karena citraku
menguatkan ketentraman
karena citraku
mematikan kekritisan
kalaupun citra
tetap kudewakan
inilah kehendak jaman
dan di sini sungguh aku
tak ingin
berseberangan
apalagi sampai melawan
kekuatan jaman
Kesaksian Anak Jaman
teringat petuah bijak
pandai-pandailah membaca jaman
bait ini pun kusenandungkan
sebagai sebuah kesaksian dari si
anak jaman
yang tak mau terperangkap jaman
hari ini, di jamanku, mungkin juga
jamanmu
adegan cermin tak lagi ditemukan
semua panel kehidupan tersesaki
layar dan jaringan
lakon hidup terekstasi oleh karut
marut komunikasi
jalanan dibanjiri produksi dan
konsumsi
ruang privat pun lenyap
ruang publik sirna
yang privat tak lagi rahasia
lalu yang paling intim hanyalah
virtual media
hari ini, di jamanku, mungkin juga
jamanmu
dramatisasi merajalela
rumah produksi melumpuhkan pelaku
utama
yang nyata susah terbeda dari yang
sekedar tontonan
realitas telah ditukar hiperrealitas
budaya imitasi kian tak kerkendali
semua mau serba instan
semua ingin cepat saji
hari ini, di jamanku, mungkin juga
jamanmu
yang nyata terganti citra
iklan telah mengkudeta
tanggung jawab moralitas
puritan telah berganti hedonis
status sosial dilihat dari obyek
yang menempel di tubuhnya
dan masyarakat pun telah berevolusi
menjadi massa
Lindasan Beribu Tanda
mana benar mana salah
jika setiap informasi
yang berseliweran
kokoh membakukan validitasnya
apalagi beragam kasus
dengan kepak sayap kepentingannya
datang silih berganti
dan saling menimpa
entah untuk apa
kau rimbunkan kebimbangan
mana benar mana salah
ah…mungkin saja kau sengaja
melindaskan ribuan tanda itu
di batok kepala
agar tak satu pun warga
dapat berpikir ria
dan memetik kejelasan makna
Kehilangan Paras
siapakah kita
saat parasku dan parasmu
tak lagi terlihat
di latar cermin pusaka
wewaris nenek moyang
apa penanda kita
kala bajuku dan bajumu
juga telah kehilangan
warna
terhinggap pekatnya debu
peradaban
kini, kita, aku dan kamu
pun hanya bisa berangguk
kepala
saat bahuku dan bahumu
disetrum
untuk beradu daya
melengkapi kanvas yang
tengah dilukis
jungkal balik kursi,
gerombolan tikus, hingga bercak darah
di baju seragam sekolah
kini, aku dan kamu
ibarat robot yang
terhipnotis
hanya bisa menunggu
kapan ruh nenek moyang
merasuk
agar kita kembali
tersadar
bahwa kita punya paras
dan penanda
yang tidak hanya bisa
berangguk kepala
saat bahu disuruh beradu
dan kanvas leluasa
dilukis
Cermin
yang Tak Laku
sekujur
tubuh renta
menghitung
lesu
tumpukan
keping cermin
yang
tak laku
meski
telah dibawa dari pintu ke pintu
sejak
sebulan yang lalu
pada
lesunya, tubuh renta itu
tak
henti mengadu
kenapa
cermin-cermin itu
tak
jua berkurang satu
padahal,
katanya, negeri ini
justru
sedang butuh beribu
bahkan
berjuta cermin
untuk
berkaca dan mencari jawab diri
yah,
bukankah di negeri ini
sedang
sesak janggal?
ratu
ekstasi malah diberi grasi
negara
maritim
tapi
ikan-garam mesti impor
agraris
tapi
beras didatangkan dari luar negeri
pembuat
anggaran
malah
menyunat anggaran
bilang
anti korupsi
malah
berkorupsi
tahu
kitab suci
malah
dibuat untuk perkaya diri
pelayan
masyarakat
malah
bermetafor rekening gendut
cermin
itu
mestinya
hiasi setiap rumah dan instansi
tapi di negeri ini
maaf, tidak laku!
Syair Sejarah
tertulis di laman sejarah
kekar negeri ini
karena para penghulu bangsa
berdiri di rajut keragaman
ramah, jujur, kerja keras, dan gotong royong
selalu menjadi syair yang terdendangkan
hantar anak negeri tidur pulas
berbalut mimpi menentramkan
membaca ulang laman sejarah
kemana perginya
para penghulu bangsa
kenapa rajutan keragaman itu
dibiarkan terobek
syair yang terdendang pun
tak lagi menentramkan
padahal sejarah ini mesti ditulis kembali
agar generasimu bisa membaca ulang
andai para penghulu bangsa
masih mengharga sejarah
lekas tulis ulang sejarah negeri ini
gunakan tinta emas untuk goreskan
pernak berkilau
jikapun tak jua mampu
cukup tuliskan seperti apa mestinya jati diri
bangsa ini
agar semua tak lupa
bahwa kita adalah bagian bangsa
yang mensejarah
Krisis Etika
dimanakah etika itu
atau lebih tepat
masih adakah etika itu
di negeri yang katanya
berkeadaban itu
jika nyatanya
fitnah malah kalahkan
yang hak
netralitas selalu
memihak tuannya
dan sumpah pun
telah dianggap sampah
dimanakah etika itu
atau lebih tepat
masih adakah etika itu
di negeri yang katanya
tegak kokoh di kaki
moral itu
jika yang ada justru
politik uang kalahkan
cerdik cendikia
klan kuasa begitu rakus
gulung sosok kualitas
dan rakyat malah dirayu
dengan uang
bukan program
kemanakah etika itu
mesti dicari
kalau jejaknya pun kini
tak lagi berjejak
Menjaga Kata
jagalah kata
sebab kata adalah
mahkota
karena kata
kau bisa dipuja
karena kata
kau pun terhina
rawatlah kata
sebab kata adalah
senjata
yang jika salah guna
terlukalah hati sesama
dengan perih tiada tara
yang sembuhnya begitu
lama
kata tak ubahnya jimat
terpendam
jangan gunakan kata jika
baik
tak bersemayam
bahkan karena itu
lebih baik diam
Jempolmu Harimaumu
ingat pepatah kuno
‘mulutmu harimaumu’
begitulah tutur nenek
moyang
yang hanya bisa
berbahasa lisan
meski kuno
ia tetap bawa kebenaran
siapa pun terselamatkan
bila memeragakan
kini di tengah maju
peradaban
pepatah itu masih cocok
didengarkan
meski separoh katanya
dimodifkan
dari ‘mulutmu harimaumu’
jadi ‘jempolmu
harimaumu’
seperti mulut
di jaman keemasannya
jempol pun mesti dijaga
di tengah kelincahannya
menari di papan gadget
yang terlambung di era
digital dan media sosial
huruf, kata, dan kalimat
yang terlahir
dari pencetannya
jangan sampai liar
menyakiti
jangan sampai bohong
menaburi
sebab semua anggota
badan tak lepas
pertanggung jawaban
dan jempol pun
tak luput dari
perhitungan
Resep Jitu
kala kabar benar-bohong
berseliweran
pertajamlah cernaan
kala parade citra
membahana
janganlah mudah terlena
kala perang kuasa
menghantui
peganglah nurani
kala gundah kelana
berkelibat
tegakkanlah dizikir dan
shalat
kala nafsu dunia
merajai
ingatlah mati
itulah resep jitu
dari seorang ayah-ibu
yang mendamba
anaknya selamat selalu
dari kilau dunia
yang
menipu


Komentar
Posting Komentar