PUISI-PUISI PENCITRAAN KARYA SOLEHUN



Pendewa Citra

siapa bilang aku menyekutukan tuhan
sebab hanya sebuah citra
yang kudewakan

kalaupun ada simulacra atau tipuan
tak pantas pula kau sebut
keharaman

belgedes! mestinya malah kau sebut
aku pahlawan

karena citraku
menebarkan kesuksesan

karena citraku
menguatkan ketentraman

karena citraku
mematikan kekritisan

kalaupun citra
tetap kudewakan
inilah kehendak jaman
dan di sini sungguh aku tak ingin
berseberangan
apalagi sampai melawan
kekuatan jaman

Kesaksian Anak Jaman

teringat petuah bijak
pandai-pandailah membaca jaman
bait ini pun kusenandungkan
sebagai sebuah kesaksian dari si anak jaman
yang tak mau terperangkap jaman

hari ini, di jamanku, mungkin juga jamanmu
adegan cermin tak lagi ditemukan
semua panel kehidupan tersesaki layar dan jaringan
lakon hidup terekstasi oleh karut marut komunikasi
jalanan dibanjiri produksi dan konsumsi

ruang privat pun lenyap
ruang publik sirna
yang privat tak lagi rahasia
lalu yang paling intim hanyalah virtual media

hari ini, di jamanku, mungkin juga jamanmu
dramatisasi merajalela
rumah produksi melumpuhkan pelaku utama
yang nyata susah terbeda dari yang sekedar tontonan
realitas telah ditukar hiperrealitas
budaya imitasi kian tak kerkendali
semua mau serba instan
semua ingin cepat saji

hari ini, di jamanku, mungkin juga jamanmu
yang nyata terganti citra
iklan telah mengkudeta
tanggung jawab moralitas
puritan telah berganti hedonis
status sosial dilihat dari obyek
yang menempel di tubuhnya
dan masyarakat pun telah berevolusi
menjadi massa

Lindasan Beribu Tanda

mana benar mana salah
jika setiap informasi
yang berseliweran
kokoh membakukan validitasnya
apalagi beragam kasus
dengan kepak sayap kepentingannya
datang silih berganti
dan saling menimpa

entah untuk apa
kau rimbunkan kebimbangan
mana benar mana salah

ah…mungkin saja kau sengaja
melindaskan ribuan tanda itu
di batok kepala
agar tak satu pun warga
dapat berpikir ria
dan memetik kejelasan makna


Kehilangan Paras

siapakah kita
saat parasku dan parasmu
tak lagi terlihat
di latar cermin pusaka
wewaris nenek moyang

apa penanda kita
kala bajuku dan bajumu
juga telah kehilangan warna
terhinggap pekatnya debu peradaban 

kini, kita, aku dan kamu
pun hanya bisa berangguk kepala
saat bahuku dan bahumu disetrum
untuk beradu daya
melengkapi kanvas yang tengah dilukis
jungkal balik kursi, gerombolan tikus, hingga bercak darah
di baju seragam sekolah

kini, aku dan kamu
ibarat robot yang terhipnotis             
hanya bisa menunggu
kapan ruh nenek moyang merasuk
agar kita kembali tersadar
bahwa kita punya paras
dan penanda
yang tidak hanya bisa berangguk kepala
saat bahu disuruh beradu
dan kanvas leluasa dilukis



Cermin yang Tak Laku

sekujur tubuh renta
menghitung lesu
tumpukan keping cermin
yang tak laku
meski telah dibawa dari pintu ke pintu
sejak sebulan yang lalu 

pada lesunya, tubuh renta itu
tak henti mengadu
kenapa cermin-cermin itu
tak jua berkurang satu
padahal, katanya, negeri ini
justru sedang butuh beribu
bahkan berjuta cermin
untuk berkaca dan mencari jawab diri

yah, bukankah di negeri ini
sedang sesak janggal?
ratu ekstasi malah diberi grasi
negara maritim
tapi ikan-garam mesti impor
agraris
tapi beras didatangkan dari luar negeri
pembuat anggaran
malah menyunat anggaran
bilang anti korupsi
malah berkorupsi
tahu kitab suci
malah dibuat untuk perkaya diri
pelayan masyarakat
malah bermetafor rekening gendut

cermin itu
mestinya hiasi setiap rumah dan instansi
tapi di negeri ini
maaf, tidak laku!


Syair Sejarah

tertulis di laman sejarah
kekar negeri ini
karena para penghulu bangsa
berdiri di rajut keragaman
ramah, jujur, kerja keras, dan gotong royong
selalu menjadi syair yang terdendangkan
hantar anak negeri tidur pulas
berbalut mimpi menentramkan

membaca ulang laman sejarah
kemana perginya
para penghulu bangsa
kenapa rajutan keragaman itu
dibiarkan terobek
syair yang terdendang pun
tak lagi menentramkan
padahal sejarah ini mesti ditulis kembali
agar generasimu bisa membaca ulang

andai para penghulu bangsa
masih mengharga sejarah
lekas tulis ulang sejarah negeri ini
gunakan tinta emas untuk goreskan
pernak berkilau
jikapun tak jua mampu
cukup tuliskan seperti apa mestinya jati diri
bangsa ini
agar semua tak lupa
bahwa kita adalah bagian bangsa
yang mensejarah

Krisis Etika
dimanakah etika itu
atau lebih tepat
masih adakah etika itu
di negeri yang katanya
berkeadaban itu
jika nyatanya
fitnah malah kalahkan yang hak
netralitas selalu memihak tuannya 
dan sumpah pun
telah dianggap sampah

dimanakah etika itu
atau lebih tepat
masih adakah etika itu
di negeri yang katanya
tegak kokoh di kaki moral itu
jika yang ada justru
politik uang kalahkan cerdik cendikia
klan kuasa begitu rakus
gulung sosok kualitas
dan rakyat malah dirayu dengan uang
bukan program

kemanakah etika itu
mesti dicari
kalau jejaknya pun kini
tak lagi berjejak


Menjaga Kata

jagalah kata
sebab kata adalah mahkota
karena kata
kau bisa dipuja
karena kata
kau pun terhina

rawatlah kata
sebab kata adalah senjata
yang jika salah guna
terlukalah hati sesama
dengan perih tiada tara
yang sembuhnya begitu lama

kata tak ubahnya jimat
terpendam
jangan gunakan kata jika baik
tak bersemayam
bahkan karena itu
lebih baik diam 


Jempolmu Harimaumu

ingat pepatah kuno
‘mulutmu harimaumu’
begitulah tutur nenek moyang
yang hanya bisa berbahasa lisan
meski kuno
ia tetap bawa kebenaran
siapa pun terselamatkan bila memeragakan

kini di tengah maju peradaban
pepatah itu masih cocok didengarkan
meski separoh katanya dimodifkan
dari ‘mulutmu harimaumu’
jadi ‘jempolmu harimaumu’

seperti mulut
di jaman keemasannya
jempol pun mesti dijaga
di tengah kelincahannya menari di papan gadget
yang terlambung di era digital dan media sosial
huruf, kata, dan kalimat yang terlahir
dari pencetannya
jangan sampai liar
menyakiti
jangan sampai bohong
 menaburi
sebab semua anggota badan tak lepas
pertanggung jawaban
dan jempol pun
tak luput dari perhitungan


Resep Jitu

kala kabar benar-bohong
berseliweran
pertajamlah cernaan

kala parade citra
membahana
janganlah mudah terlena

kala perang kuasa
menghantui
peganglah nurani

kala gundah kelana
berkelibat
tegakkanlah dizikir dan shalat

kala nafsu dunia
merajai
ingatlah mati

itulah resep jitu
dari seorang ayah-ibu
yang mendamba
anaknya selamat selalu
dari kilau dunia
yang menipu

Komentar