Karakteristik Wacana Pojok Koran *)
Oleh : Solehun
Wujud wacana berbahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari sangat beragam. Salah satunya berupa rubrik "pojok" koran. Meski kerap dianggap sebagai wujud wacana yang menyimpang dari tata bahasa normatif, pojok koran tetap menjadi andalan para pengelola surat kabar. Dengan bentuknya yang khas, pojok tetap dianggap penting untuk ditampilkan karena dinilai mampu mengemban misi universal media, yakni untuk mendisfusikan informasi (to inform), menghibur (to entertain), mendidik (to educate), dan mempengaruhi (to influence).
Sebagai wacana yang khas, pojok koran tentunya memiliki karakteristik. Sesungguhnya bagaimana karakteristik wacana pojok koran itu? Terkait hal ini, penulis pernah melakukan kajian wacana pojok koran yang terbit di tiga koran nasional (Kompas, Republika, dan Pikiran Rakyat) pada November dan Desember 2001, dengan fokus analisis pada aspek struktur wacana, ciri kepaduan wacana, dan tindak tutur.
Berikut dinukilkan secara garis besar hasil penelitian dimaksud:
Struktur Wacana
Wacana rubrik pojok koran memiliki struktur tubuh yang tidak lengkap atau hanya tersegmentasi atas margin inti, dengan mekanisme pergantian tuturan berpola pernyataan-sahutan sebesar 93,3% (di dalamnya secara berurut didominasi oleh sahutan komentar, sahutan pembenaran, dan sahutan penolakan) dan berpola pernyataan-pertanyaan 6,7%.
Ciri Kepaduan Wacana
Kepaduan wacana pojok dicirikan melalui sarana referensi, elipsis, presuposisi, dan implikatur. Jenis referensi yang paling sering digunakan adalah endofora (40,7%), disusul eksofora (35,9%), demonstratif (14,5%), komparatif (6,9%), dan personal (2,1%). Elipsis yang ditemukan dalam wacana ini meliputi elipsis kata (48%), frase (38,7%), klausa (10,7%), dan kalimat (2,7%). Terkait dengan penggunaan presuposisi, wacana ini lebih sering menggunakan presuposisi yang bersifat semantis (98,3%) ketimbang pragmatis (1,7%), dengan keragaman isinya yang meliputi tema politik (28,3%), sosial budaya (25%), ekonomi (16,7%), hukum (16,7%), dan pendidikan (13,3%). Selanjutnya, implikatur yang mendukung kepaduan wacana ini diwujudkan dengan pemakaian maksim kualitas (43,3%), cara (28,3%), kuantitas (15%), dan relasi (13,3%).
Tindak Tutur
Tindak tutur wacana pojok koran, berdasarkan jenisnya, meliputi tindak tutur representatif (45%), direktif (31,7%), ekspresif (11,7%), deklaratif (8,3%), dan komisif (3,3%). Berdasarkan sifat hubungannya, hanya tindak tutur lokusi yang digunakan. Sementara berdasarkan hakikat pemakaiannya, terdapat tindak tutur tidak menghiraukan sebesar 50% (tidak menghiraukan secara sengaja 5%, tidak menghiraukan secara tidak sengaja 45%), sopan-santun (38,3%), dan penghormatan (11,7%).
Demikian informasi singkat seputar karakteristik wacana "pojok" koran. Semoga bermanfaat.
*) Disarikan dari Tesis Penulis yang Berjudul "Kajian Wacana Rubrik Pojok Koran dan Sistematik Penyajiannya sebagai Alternatif Bahan Ajar Mata Kuliah Tata Wacana Bahasa Indonesia di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia", Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, 2002.

Komentar
Posting Komentar