Antologi Cerpen ‘Tumbal’: Saat Posisi yang Lemah Selalu Terkalahkan
Seperti jenis karya sastra lainnya, cerpen selalu hadir dengan tujuannya. Cerpen hadir untuk menghibur sekaligus menyuarakan kebenaran, terutama kebenaran yang diyakini oleh pengarangnya. Karena itu, cerpen selalu mengangkat hal yang bersifat universal, melampaui batas ruang dan waktu, agar dapat dinikmati oleh siapa pun dan dimana pun.
Menghibur dan menyuarakan kebenaran, begitulah kesan yang didapat setelah membaca antologi cerpen berjudul “Tumbal” karya Solehun, yang diterbitkan oleh Pustaka Media Pratama, Bandung, pada Mei 2016.
Melalui empat belas cerpen yang terdapat dalam antologi tersebut, penulis yang wong kito ini mencoba mengungkap dan merefleksikan berbagai realita kehidupan di sekitar kita dengan sentuhan imajinatif. Bagi sebagian orang, bisa saja realita-imajiner kehidupan tersebut dinilai sebagai hal yang biasa. Namun, bagi sebagian yang lain, tidak menutup kemungkinan realita itu justru dianggap sebagai hal yang serius mengingat dapat mewakili apa yang dilihat, dirasa, ataupun diperjuangkan dalam kehidupannya selama ini.
Realita kehidupan yang tersaji dalam antologi cerpen ini secara lugas mengangkat kritik sosial seputar persoalan betapa ‘orang kecil’ atau ‘kaum marjinal’ selalu tak berdaya dan terkalahkan oleh kekuatan pemilik kuasa ataupun pemilik modal. Tak peduli meski yang disuarakan adalah kebenaran, manakala hal itu dinilai membahayakan posisi atau pengaruh pemilik kuasa, maka si lemah itu mesti disingkirkan bahkan dilenyapkan.
Posisi ketidakberdayaan “si lemah” tersebut sangat lugas disampaikan pengarang, meski tersaji melalui tema yang beragam. Di tema politik misalnya, ada sosok Parminto yang harus ditumbalkan di balik hiruk-pikuk Pilkada. Lalu di tema lingkungan, nasib sama pun dialami warga sekitar Sungai Mudik yang harus dibantai oleh kekuatan pemilik modal yang diprotes gara-gara mencemari lingkungan.
Persoalan lain seperti perilaku kolutif-manipulatif dan karut-marut hukum juga mewarnai antologi cerpen ini. Pada cerpen ‘Matinya Seekor Jerry’misalnya, seekor anjing dan tuannya harus meregang nyawa karena protesnya atas praktik mafia hukum yang membebaskan koruptor kelas kakap dengan dalih tidak ada bukti yang meyakinkan.
Masih banyak hal menarik lainnya terlukis dalam antologi ini. Masalah krisis budaya pun tak luput dari sorotan, seperti terlihat dalam cerpen ‘Awan Serba Ada’ dan ’Cermin Retak’. Termasuk juga persoalan ironisme dunia pertanian ikut hadir membingkai antologi cerpen ini.
Deretan cerpen ini tentu dapat menarik minat pembaca. Seperti halnya “Tumbal” yang menjadi judul antologi ini, kita pun akan dengan rela hati berkenan ‘menumbalkan’ waktu sekedar untuk membaca tuntas karya kreatif ini.
(lihat juga di http://sumselupdate.com/antologi-cerpen-tumbal-saat-posisi-yang-lemah-selalu-terkalahkan/)

Komentar
Posting Komentar